<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4744126975665183720</id><updated>2012-02-16T03:45:28.566-08:00</updated><title type='text'>Dhammapada Atthakatha bab 3</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4744126975665183720.post-6888940673573750470</id><published>2008-08-20T04:10:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T04:15:43.605-07:00</updated><title type='text'>Syair 43 (III:9. Kisah Soreyya)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv70lxX83I/AAAAAAAAAJ8/Ri1kTYGZtds/s1600-h/da03_011.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv70lxX83I/AAAAAAAAAJ8/Ri1kTYGZtds/s320/da03_011.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236555872659305330" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Suatu hari    Soreyya beserta seorang teman dan beberapa pembantu pergi dengan sebuah kereta    yang mewah untuk membersihkan diri (mandi). Pada saat itu, Mahakaccayana Thera    sedang mengatur jubahnya di pinggir luar kota, karena ia akan memasuki kota    Soreyya untuk berpindapatta. Pemuda Soreyya, melihat sinar keemasan dari Mahakaccayana    Thera, berpikir: "Bagaimana apabila Mahakaccayana Thera menjadi isteriku, atau    bagaimana apabila warna kulit isteriku seperti itu." Karena muncul keinginan    seperti itu, kelaminnya berubah menjadi seorang wanita. &lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Dengan sangat    malu, ia turun dari kereta dan berlari, pada jalan menuju ke arah Taxila. Pembantunya    kehilangan dia, mencarinya, tetapi tidak dapat menemukannya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Soreyya, sekarang    seorang wanita, memberikan cincinnya sebagai ongkos kepada beberapa orang yang    bepergian ke Taxila, dengan harapan agar ia diizinkan ikut dalam kereta mereka.    Setelah tiba di Taxila, teman-teman Soreyya berkata kepada seorang pemuda kaya    di Taxila tentang perempuan yang datang bersama mereka. Pemuda kaya itu melihat    Soreyya yang begitu cantik dan seumur dengannya, menikahi Soreyya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Perkawinan itu    membuahkan dua anak laki-laki; dan ada juga dua anak laki-laki dari perkawinan    Soreyya pada waktu masih sebagai pria. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Suatu hari, seorang    anak orang kaya dari kota Soreyya datang di Taxila dengan lima ratus kereta.    Perempuan Soreyya mengenalinya sebagai seseorang yang telah diutus oleh teman    lamanya. Laki-laki dari kota Soreyya itu merasa senang bahwa ia diundang oleh    seorang perempuan yang tidak dikenalnya. Ia berbicara dengan Soreyya bahwa ia    tidak mengenalnya, dan bertanya kepada Soreyya apakah Soreyya mengetahui dirinya.    Soreyya menjawab bahwa ia tahu tentang dirinya dan menanyakan kesehatan keluarganya    dan beberapa orang-orang di kota Soreyya. Laki-laki dari kota Soreyya berbicara    tentang anak orang kaya yang hilang secara misterius ketika pergi ke luar kota    untuk mandi. Soreyya mengungkapkan identitas dirinya dan menghubungkan semua    apa yang telah terjadi, tentang pikiran salahnya kepada Mahakaccayana Thera,    tentang perubahan kelamin, dan perkawinannya dengan orang kaya di Taxila. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Laki-laki dari    kota Soreyya menasehatinya untuk meminta maaf kepada Mahakaccayana Thera. Mahakaccayana    Thera diundang ke rumah perempuan Soreyya dan menerima dana makanan darinya.    Sesudah bersantap, perempuan Soreyya dibawa menghadap Mahakaccayana Thera, dan    laki-laki dari kota Soreyya berbicara kepada Mahakaccayana Thera bahwa perempuan    ini pada waktu dulu adalah seorang anak laki-laki orang kaya di kota Soreyya.    Ia kemudian menjelaskan kepada Mahakaccayana Thera bagaimana Soreyya menjadi    perempuan karena berpikiran jelek pada saat menghormati Mahakaccayana Thera.    Perempuan Soreyya dengan hormat meminta maaf kepada Mahakaccayana Thera. Mahakaccayana    Thera berkata,"Bangunlah, saya memaafkanmu." Segera setelah kata-kata itu diucapkan,    perempuan tersebut berubah kelamin menjadi seorang laki-laki. Soreyya kemudian    merenungkan bagaimana dengan satu keberadaan diri dan dengan satu keberadaan    tubuh jasmani ia telah berubah kelamin, bagaimana anak-anak telah dilahirkannya.    Merasa sangat cemas dan jijik terhadap segala hal itu, ia memutuskan untuk meninggalkan    hidup berumahtangga dan memasuki Pasamuan Sangha di bawah bimbingan Mahakaccayana    Thera. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Sesudah itu ia    sering ditanya,"Siapa yang kamu cintai, dua anak laki-laki pada saat ia sebagai    seorang laki-laki atau dua anak lain pada saat ia sebagai seorang isteri ?"    Terhadap hal itu ia menjawab bahwa cinta kepada mereka yang dilahirkan dari    rahimnya adalah lebih besar. Pertanyaan ini sering kali muncul, ia merasa sangat    terganggu dan malu. Kemudian ia menyendiri dan dengan rajin, merenungkan penghancuran    dan proses tubuh jasmani. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Tidak terlalu    lama kemudian, ia mencapai tingkat kesucian arahat bersamaan dengan pandangan    terang analitis. Ketika pertanyaan lama ditanyakan kepadanya, ia menjawab bahwa    ia telah tidak mempunyai lagi kesayangan pada sesuatu yang khusus. Bhikkhu-bhikkhu    lain yang mendengarnya berpikir bahwa ia pasti berkata tidak benar. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Pada saat dilapori    dua jawaban berbeda Soreyya itu, Sang Buddha berkata, "Anak-Ku berkata benar,    ia telah berbicara benar. Jawabannya sekarang lain karena ia sekarang telah    mencapai tingkat kesucian arahat sehingga ia tidak lagi menyayangi sesuatu yang    khusus. Dengan pikiran terarah benar anak-Ku telah membuat dirinya berada pada    suatu kehidupan baik, yang bukan diberikan oleh ayah maupun ibu." &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kemudian Sang    Buddha membabarkan syair 43 berikut : &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bukan dengan    pertolongan ibu, ayah, ataupun sanak keluarga; namun pikiran yang diarahkan    dengan baik yang akan membantu dan mengangkat derajat seseorang.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Banyak bhikkhu    mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir.&lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4744126975665183720-6888940673573750470?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/feeds/6888940673573750470/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4744126975665183720&amp;postID=6888940673573750470' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/6888940673573750470'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/6888940673573750470'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/2008/08/syair-43-iii9-kisah-soreyya.html' title='Syair 43 (III:9. Kisah Soreyya)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv70lxX83I/AAAAAAAAAJ8/Ri1kTYGZtds/s72-c/da03_011.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4744126975665183720.post-2239789321753653018</id><published>2008-08-20T04:09:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T04:10:22.356-07:00</updated><title type='text'>Syair 40 (III:6. Kisah Lima Ratus Bhikkhu)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv7lXcZGeI/AAAAAAAAAJ0/W3n23NPkMc4/s1600-h/da03_008.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv7lXcZGeI/AAAAAAAAAJ0/W3n23NPkMc4/s320/da03_008.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236555611115166178" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Lima ratus    bhikkhu yang berasal dari Savatthi, setelah memperoleh cara-cara bermeditasi    dari Sang Buddha, mengadakan perjalanan sejauh seratus yojana dari Savatthi    dan tiba pada sebuah hutan yang besar, suatu tempat yang cocok untuk melaksanakan    meditasi. Banyak makhluk halus yang berdiam pada pohon-pohon di hutan tempat    para bhikkhu tinggal, para makhluk halus itu merasa tidak sesuai berdiam di    pohon bersama-sama mereka. &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Para makhluk halus    itu kemudian turun dari pohon dan berpikir, "Ah, para bhikkhu itu hanya bermeditasi    untuk satu malam saja. Biarlah aku mengalah dan menyingkir dari pohon." Tetapi,    sampai dini hari para bhikkhu itu belum pergi juga. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Celaka, jangan-jangan    para bhikkhu itu akan tinggal di sini sampai akhir masa vassa. Maka aku dan    keluargaku terpaksa harus tinggal di tanah dalam waktu yang lama." Pikir makhluk-makhluk    halus itu lagi. Mereka segera berunding dan memutuskan untuk menakut-nakuti    para bhikkhu tersebut pada malam harinya, dengan membuat suara-suara dan hal-hal    aneh yang menakutkan. Mereka memperlihatkan tubuh tanpa kepala, kepala tanpa    tubuh, kerangka-kerangka yang berjalan mondar-mandir, dan sebagainya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Bhikkhu-bhikkhu    sangat terganggu dengan tingkah laku mereka dan akhirnya meninggalkan tempat    itu, kembali menghadap Sang Buddha, serta menceritakan segala yang terjadi.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Setelah mendengarkan    laporan mereka, Sang Buddha mengatakan bahwa hal itu terjadi karena mereka pergi    tanpa membawa apa-apa. Mereka harus kembali ke hutan itu dengan membawa sesuatu    yang sesuai (cinta kasih). Kemudian Sang Buddha mengajarkan ‘Metta Sutta?(Sutta    Pengembangan Cinta Kasih) kepada mereka, diawali dengan syair berikut : &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Karaniyamattha    kusalena&lt;br /&gt; Yanta santam padam abhisamecca&lt;br /&gt; Sakko uju ca suhuju ca&lt;br /&gt; Hal-hal inilah yang perlu dilakukan oleh mereka yang tangkas dalam kebaikan    dan bermanfaat mencapai ketenangan sempurna (Nibbana).&lt;br /&gt; Ia harus tepat guna, jujur, sungguh jujur, rendah hati, lemah lembut, tiada    sombong, dst.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Bhikkhu-bhikkhu    diharapkan untuk mengulang kembali sutta itu pada saat mereka tiba di pinggir    hutan dan berada di vihara. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Para bhikkhu pergi    kembali ke hutan dan melakukan pesan Sang Buddha. Makhluk halus penunggu pohon    mendapat pancaran cinta kasih dari bhikkhu-bhikkhu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Mengetahui bahwa    para bhikkhu sebenarnya tidak ingin mengganggu mereka, para makhluk halus membalas    dengan menyambut selamat datang dan tidak mengganggu lagi. Di hutan itu tidak    ada lagi suara-suara dan penglihatan-penglihatan yang aneh. Dalam suasana damai    bhikkhu-bhikkhu bermeditasi dengan obyek tubuh jasmani, dan mereka memperoleh    perealisasian bahwa tubuh ini rapuh dan tidak kekal keberadaannya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Dari Vihara Jetavana,    Sang Buddha, dengan kekuatan batinnya, mengetahui kemajuan batin bhikkhu-bhikkhu    itu dan mengirimkan cahaya agar membuat mereka merasakan kehadiran Beliau. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kepada mereka    Sang Buddha berkata, "Para bhikkhu, seperti apa yang kalian telah realisasikan,    tubuh ini sungguh-sungguh tidak kekal dan rapuh seperti sebuah tempayan tanah."    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kemudian Sang    Buddha membabarkan syair 40 berikut : &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Dengan mengetahui    bahwa tubuh ini rapuh bagaikan tempayan, hendaknya seseorang memperkokoh pikirannya    bagaikan benteng kota, dan melenyapkan Mara dengan senjata kebijaksanaan. Ia    harus menjaga apa yang telah dicapainya, dan hidup tanpa ikatan lagi.&lt;/i&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Lima ratus bhikkhu    itu mencapai tingkat kesucian arahat setelah khotbah Dhamma itu berakhir. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4744126975665183720-2239789321753653018?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/feeds/2239789321753653018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4744126975665183720&amp;postID=2239789321753653018' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/2239789321753653018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/2239789321753653018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/2008/08/syair-40-iii6-kisah-lima-ratus-bhikkhu.html' title='Syair 40 (III:6. Kisah Lima Ratus Bhikkhu)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv7lXcZGeI/AAAAAAAAAJ0/W3n23NPkMc4/s72-c/da03_008.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4744126975665183720.post-395434114818055191</id><published>2008-08-20T04:08:00.002-07:00</published><updated>2008-08-20T04:09:22.565-07:00</updated><title type='text'>Syair 38-39 (III:5. Kisah Cittahattha Thera)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv7UngAksI/AAAAAAAAAJs/AEiGWxdem7U/s1600-h/da03_006.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv7UngAksI/AAAAAAAAAJs/AEiGWxdem7U/s320/da03_006.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236555323367527106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;    &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Seorang laki-laki    yang berasal dari Savatti, ketika mengetahui lembu jantannya hilang, mencarinya    ke dalam hutan. Yang dicari tidak juga diketemukan. Akhirnya ia merasa lelah    dan sangat lapar. Ia singgah ke sebuah vihara desa, dengan harapan di situ ia    akan mendapatkan sisa dari makanan pagi. &lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Pada saat makan,    terpikir olehnya bahwa ia bekerja sangat keras setiap hari tetapi tidak mendapatkan    cukup makanan. Para bhikkhu itu kelihatannya tak pernah bekerja, tetapi selalu    mendapat makanan yang cukup. Bahkan berlebih. Maka muncul sebuah ide yang baik    untuk menjadi seorang bhikkhu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kemudian ia bertanya    kepada para bhikkhu untuk memperoleh izin memasuki pasamuan Sangha. Saat di    vihara laki-laki itu melakukan tugas-tugasnya sebagai seorang bhikkhu dan di    vihara terdapat banyak makanan, sehingga ia segera menjadi gemuk. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Sesudah beberapa    waktu, ia bosan berpindapatta dan kembali pada kehidupan berumah tangga. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Beberapa waktu    kemudian, ia merasa bahwa kehidupannya di rumah terlalu sibuk dan ia kembali    ke vihara untuk diizinkan menjadi seorang bhikkhu untuk kedua kalinya. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Untuk kedua kalinya,    ia meninggalkan pasamuan Sangha dan kembali menjadi perumah tangga. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Lagi, ia pergi    ke vihara untuk ketiga kalinya dan kemudian lepas jubah lagi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Proses ini terjadi    enam kali, dan karena ia melakukan hanya menuruti kemauannya saja, maka ia dikenal    sebagai Citahattha Thera. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Pada saat pulang    balik antara rumahnya dan vihara, isterinya hamil. Sebenarnya ia belum siap    menjadi bhikkhu, ia memasuki pasamuan bhikkhu hanya karena kesenangannya saja.    Jadi, ia tidak pernah berbahagia, baik sebagai perumah tangga, maupun sebagai    seorang bhikkhu. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Suatu hari, saat    hari terakhir tinggal di rumah, ia masuk ke kamar tidur pada saat isterinya    sedang tidur. Isterinya hampir telanjang, memakai pakaian yang sebagian terjulai    jatuh. Isterinya juga mengorok dengan suara keras melalui hidung dan dari mulutnya    keluar lendir dan ludah. Jadi dengan mulut yang terbuka dan perut yang gembung,    ia terlihat hanya seperti mayat. Melihat keadaan isterinya, ia tiba-tiba merasa    ketidakkekalan dan ketidakindahan tubuh jasmani, dan ia membayangkan: "Saya    telah menjadi seorang bhikkhu beberapa kali dan hal ini hanya dikarenakan perempuan    ini, yang menjadikan saya tidak dapat menjadi seorang bhikkhu……" &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kemudian ia mengambil    jubah kuningnya, dan pergi meninggalkan rumahnya pergi ke vihara untuk ke tujuh    kalinya. Karena ia dalam perjalanan mengulangi kata-kata "tidak kekal" dan "penderitaan"    (anicca dan dukkha) dan dapat meresapi artinya, ia mencapai tingkat kesucian    sotapatti dalam perjalanan ke vihara. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Setelah tiba di    vihara ia berkata kepada para bhikkhu agar diizinkan diterima dalam pasamuan    Sangha. Para bhikkhu menolak dan berkata, "Kami tidak dapat mengizinkanmu lagi    menjadi seorang bhikkhu. Kamu berulangkali mencukur rambut kepalamu sehingga    kepalamu seperti sebuah batu yang diasah." &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Masih ia memohon    dengan amat sangat agar diizinkan diterima dalam pasamuan Sangha sekali ini    dan mereka memenuhinya. Dalam beberapa hari bhikkhu Cittahattha mencapai tingkat    kesucian arahat bersamaan dengan pandangan terang analitis. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Bhikkhu lain kagum    melihat dia sekarang dapat tetap tinggal dalam jangka waktu lama di vihara.    Mereka bertanya apa sebabnya ? Terhadap hal itu, beliau menjawab, "Saya pulang    ke rumah ketika saya masih memiliki kemelekatan dalam diri saya, tetapi kemelekatan    itu sekarang telah terpotong." &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Bhikkhu-bhikkhu    yang tidak percaya kepadanya, menghadap Sang Buddha dan melaporkan hal itu.    Kepada mereka, Sang Buddha berkata,"Bhikkhu Cittahattha telah berbicara benar;    ia berpindah-pindah antara rumah dan vihara karena waktu itu pikirannya tidak    mantap dan tidak mengerti Dhamma. Tetapi pada saat ini, Cittahattha telah menjadi    seorang arahat; ia telah mengatasi kebaikan dan kejahatan." &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kemudian Sang    Buddha membabarkan syair 38 dan 39 berikut ini: &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;  &lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Orang yang pikirannya  tidak teguh, yang tidak mengenal ajaran yang benar, yang keyakinannya selalu goyah,  orang seperti itu tidak akan sempurna kebijaksanaannya. &lt;/span&gt; &lt;/b&gt; &lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Orang yang    pikirannya tidak dikuasai oleh nafsu dan kebencian, yang telah mengatasi keadaan    baik dan buruk, di dalam diri orang yang selalu sadar seperti itu tidak ada    lagi ketakutan. &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4744126975665183720-395434114818055191?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/feeds/395434114818055191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4744126975665183720&amp;postID=395434114818055191' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/395434114818055191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/395434114818055191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/2008/08/syair-38-39-iii5-kisah-cittahattha.html' title='Syair 38-39 (III:5. Kisah Cittahattha Thera)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv7UngAksI/AAAAAAAAAJs/AEiGWxdem7U/s72-c/da03_006.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4744126975665183720.post-1736761911252627317</id><published>2008-08-20T04:08:00.001-07:00</published><updated>2008-08-20T04:08:48.704-07:00</updated><title type='text'>Syair 37 (III:4. Kisah Samgharakkhita Thera)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv7L94q0FI/AAAAAAAAAJk/wauGYiLb_kA/s1600-h/da03_005.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv7L94q0FI/AAAAAAAAAJk/wauGYiLb_kA/s320/da03_005.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236555174757716050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;      &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Suatu hari,    tinggallah di Savatthi, seorang bhikkhu senior yang bernama Samgharakkhita.    Ketika kakak perempuannya melahirkan anak laki-laki, ia memberi nama anaknya    Samgharakkhita Bhagineyya. Keponakan Samgharakkhita, pada waktu itu, juga memasuki    pasamuan Sangha. &lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Ketika bhikkhu    muda tinggal di suatu vihara desa, ia diberi dua buah jubah, dan ia bermaksud    memberikan satu jubah kepada pamannya, Samgharakkhita Thera. Akhir masa vassa,    bhikkhu muda itu pergi ke pamannya untuk memberi hormat kepadanya dan memberikan    jubah. Tetapi pamannya menolak untuk menerima jubah itu, dan berkata bahwa ia    sudah mempunyai cukup. Walaupun bhikkhu muda mengulangi lagi permintaannya,    pamannya tetap tidak mau. Bhikkhu muda itu merasa sakit hati dan berpikir bahwa    sejak saat itu pamannya tidak sudi untuk berbagi kebutuhan dengannya. Akan lebih    baik baginya untuk meninggalkan pasamuan Sangha dan hidup sebagai seorang perumah    tangga. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Dari masalah itu,    pikirannya mengembara dari pikiran yang satu ke pikiran yang lain. Ia berpikir    bahwa setelah meninggalkan pasamuan Sangha, ia akan menjual jubahnya dan membeli    seekor kambing betina. Kambing betina itu akan segera melahirkan anak. Anak-anak    kambing dijual dan segera ia akan mempunyai uang cukup untuk menikah. Isterinya    akan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia akan membawa isteri dan anaknya dengan    sebuah kereta kecil untuk mengunjungi pamannya di vihara. Dalam perjalanan,    ia akan berkata bahwa ia akan menggendong anaknya. Tetapi isterinya berkata    kepadanya agar ia mengendarai kereta saja dan jangan mengurusi anak. Ia bersikeras    dan merebut anak dari isterinya. Sewaktu terjadi perebutan, anak itu terjatuh    dan terlindas roda kereta. Dengan marah ia memukul isterinya dengan cemeti.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Pada saat itu    ia membelakangi pamannya dengan memegang kipas daun palem dan ia dengan tidak    sengaja memukul kepala pamannya dengan kipasnya. Samgharakkhita tua mengetahui    pikiran bhikkhu muda itu dan berkata, "Kamu tidak sanggup menghajar isterimu;    mengapa kamu menghajar seorang bhikkhu tua ?" Samgharakkhita muda sangat terkejut    dan malu atas kata-kata bhikkhu tua itu. Ia juga menjadi sangat ketakutan dan    kemudian melarikan diri. Bhikkhu-bhikkhu muda lainnya dan penjaga vihara mengejarnya    dan akhirnya membawanya ke hadapan Sang Buddha. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Ketika membicarakan    seluruh kisah bhikkhu muda itu, Sang Buddha berkata bahwa pikiran memiliki kemampuan    untuk berpikir pada suatu obyek yang berkepanjangan, dan seseorang seharusnya    berusaha keras untuk bebas dari belenggu nafsu keinginan, kebencian, dan kegelapan    batin. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kemudian Sang    Buddha membabarkan syair 37 berikut ini : &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pikiran itu    selalu mengembara jauh, tidak berwujud, dan terletak jauh di lubuk hati. Mereka    yang dapat mengendalikannya, akan bebas dari jeratan Mara.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Bhikkhu muda mencapai    tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4744126975665183720-1736761911252627317?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/feeds/1736761911252627317/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4744126975665183720&amp;postID=1736761911252627317' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/1736761911252627317'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/1736761911252627317'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/2008/08/syair-37-iii4-kisah-samgharakkhita.html' title='Syair 37 (III:4. Kisah Samgharakkhita Thera)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv7L94q0FI/AAAAAAAAAJk/wauGYiLb_kA/s72-c/da03_005.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4744126975665183720.post-6603176933061579322</id><published>2008-08-20T04:05:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T04:08:09.707-07:00</updated><title type='text'>Syair 36 (III:3. Kisah Seorang Bhikkhu Yang Tidak Puas)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv69Fz5MvI/AAAAAAAAAJc/EBUNylBsFXA/s1600-h/da03_004.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv69Fz5MvI/AAAAAAAAAJc/EBUNylBsFXA/s320/da03_004.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236554919187133170" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana;font-size:85%;"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Suatu hari,    tinggallah di Savatthi, seorang bhikkhu senior yang bernama Samgharakkhita.    Ketika kakak perempuannya melahirkan anak laki-laki, ia memberi nama anaknya    Samgharakkhita Bhagineyya. Keponakan Samgharakkhita, pada waktu itu, juga memasuki    pasamuan Sangha. &lt;/span&gt;  &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Ketika bhikkhu    muda tinggal di suatu vihara desa, ia diberi dua buah jubah, dan ia bermaksud    memberikan satu jubah kepada pamannya, Samgharakkhita Thera. Akhir masa vassa,    bhikkhu muda itu pergi ke pamannya untuk memberi hormat kepadanya dan memberikan    jubah. Tetapi pamannya menolak untuk menerima jubah itu, dan berkata bahwa ia    sudah mempunyai cukup. Walaupun bhikkhu muda mengulangi lagi permintaannya,    pamannya tetap tidak mau. Bhikkhu muda itu merasa sakit hati dan berpikir bahwa    sejak saat itu pamannya tidak sudi untuk berbagi kebutuhan dengannya. Akan lebih    baik baginya untuk meninggalkan pasamuan Sangha dan hidup sebagai seorang perumah    tangga. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Dari masalah itu,    pikirannya mengembara dari pikiran yang satu ke pikiran yang lain. Ia berpikir    bahwa setelah meninggalkan pasamuan Sangha, ia akan menjual jubahnya dan membeli    seekor kambing betina. Kambing betina itu akan segera melahirkan anak. Anak-anak    kambing dijual dan segera ia akan mempunyai uang cukup untuk menikah. Isterinya    akan melahirkan seorang anak laki-laki. Ia akan membawa isteri dan anaknya dengan    sebuah kereta kecil untuk mengunjungi pamannya di vihara. Dalam perjalanan,    ia akan berkata bahwa ia akan menggendong anaknya. Tetapi isterinya berkata    kepadanya agar ia mengendarai kereta saja dan jangan mengurusi anak. Ia bersikeras    dan merebut anak dari isterinya. Sewaktu terjadi perebutan, anak itu terjatuh    dan terlindas roda kereta. Dengan marah ia memukul isterinya dengan cemeti.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Pada saat itu    ia membelakangi pamannya dengan memegang kipas daun palem dan ia dengan tidak    sengaja memukul kepala pamannya dengan kipasnya. Samgharakkhita tua mengetahui    pikiran bhikkhu muda itu dan berkata, "Kamu tidak sanggup menghajar isterimu;    mengapa kamu menghajar seorang bhikkhu tua ?" Samgharakkhita muda sangat terkejut    dan malu atas kata-kata bhikkhu tua itu. Ia juga menjadi sangat ketakutan dan    kemudian melarikan diri. Bhikkhu-bhikkhu muda lainnya dan penjaga vihara mengejarnya    dan akhirnya membawanya ke hadapan Sang Buddha. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Ketika membicarakan    seluruh kisah bhikkhu muda itu, Sang Buddha berkata bahwa pikiran memiliki kemampuan    untuk berpikir pada suatu obyek yang berkepanjangan, dan seseorang seharusnya    berusaha keras untuk bebas dari belenggu nafsu keinginan, kebencian, dan kegelapan    batin. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Kemudian Sang    Buddha membabarkan syair 37 berikut ini : &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Pikiran itu    selalu mengembara jauh, tidak berwujud, dan terletak jauh di lubuk hati. Mereka    yang dapat mengendalikannya, akan bebas dari jeratan Mara.&lt;/b&gt;&lt;/i&gt; &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Bhikkhu muda mencapai    tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4744126975665183720-6603176933061579322?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/feeds/6603176933061579322/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4744126975665183720&amp;postID=6603176933061579322' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/6603176933061579322'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/6603176933061579322'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/2008/08/syair-36-iii3-kisah-seorang-bhikkhu.html' title='Syair 36 (III:3. Kisah Seorang Bhikkhu Yang Tidak Puas)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv69Fz5MvI/AAAAAAAAAJc/EBUNylBsFXA/s72-c/da03_004.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4744126975665183720.post-3657058185105102877</id><published>2008-08-20T04:04:00.001-07:00</published><updated>2008-08-20T04:05:37.162-07:00</updated><title type='text'>Syair 35 (III:2. Kisah Seorang Bhikkhu Tertentu)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv6U7MD-0I/AAAAAAAAAJM/9FMq25U3Sx4/s1600-h/da03_003.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv6U7MD-0I/AAAAAAAAAJM/9FMq25U3Sx4/s320/da03_003.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236554229140945730" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Suatu    ketika, enam puluh bhikkhu, setelah mendapatkan cara bermeditasi dari Sang Buddha,    pergi ke desa Matika, di kaki sebuah gunung. Di sana, Matikamata, ibu dari kepala    desa, memberikan dana makanan kepada para bhikkhu; Matikamata juga mendirikan    sebuah vihara untuk para bhikkhu bertempat tinggal selama musim hujan. &lt;/span&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Suatu hari Matikamata    bertanya kepada para bhikkhu perihal cara-cara bermeditasi. Bhikkhu-bhikkhu    itu mengajarkan kepadanya bagaimana cara bermeditasi dengan tiga puluh dua unsur    bagian tubuh untuk menyadari kerapuhan dan kehancuran tubuh. Matikamata melaksanakannya    dengan rajin dan mencapai tiga magga dan phala bersamaan dengan pandangan terang    analitis dan kemampuan batin luar biasa, sebelum para bhikkhu itu mencapainya.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Dengan munculnya    berkah magga dan phala ia dapat melihat dengan mata batin (dibbacakkhu). Ia    mengetahui para bhikkhu itu belum mencapai magga. Ia juga tahu bahwa bhikkhu-bhikkhu    itu mempunyai cukup potensi untuk mencapai arahat, tetapi mereka memerlukan    makanan yang cukup dan penuh gizi, karena tubuh yang lemah akan mempengaruhi    pikiran untuk berkonsentrasi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Maka, Matikamata    menyediakan makanan pilihan untuk mereka. Dengan makan makanan yang sesuai dan    pengendalian yang benar, para bhikkhu dapat mengembangkan konsentrasinya dengan    benar dan akhirnya mencapai arahat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Akhir musim hujan,    para bhikkhu kembali ke vihara Jetavana, tempat bersemayam Sang Buddha. Mereka    melaporkan kepada Sang Buddha bahwa mereka semua dalam keadaan kesehatan yang    baik dan menyenangkan, mereka sudah tidak khawatir perihal makanan. Mereka juga    menceritakan Matikamata mengetahui pikiran mereka dan menyediakan serta memberi    mereka banyak makanan yang sesuai. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Seorang bhikkhu,    yang mendengar pembicaraan mereka tentang Matikamata, memutuskan untuk melakukan    hal yang sama pergi ke desa itu. Setelah memperoleh cara-cara meditasi dari    Sang Buddha ia tiba di vihara desa. Di sana, ia menemukan bahwa segala yang    diharapkannya sudah dikirim oleh Matikamata, umat yang dermawan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Ketika bhikkhu    itu mengharap Matikamata datang, ia datang ke vihara, dengan pilihan banyak    makanan. Sesudah makan, bhikkhu itu bertanya kepada Matikamata apakah ia bisa    membaca pikiran orang lain. Matikamata mengelak dengan pertanyaan balasan, "Orang    yang dapat membaca pikiran orang lain berkelakuan semakin jauh dari ‘Sang Jalan?"    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Dengan terkejut    bhikkhu itu berpikir, "Mungkinkah saya, berkelakuan seperti perumah tangga yang    terikat pikiran tidak suci, dan ia sungguh-sungguh mengetahuinya ?" Bhikkhu    itu khawatir terhadap umat dermawan tersebut dan memutuskan kembali ke Vihara    Jetavana. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Ia menyampaikan    kepada Sang Buddha bahwa ia tidak dapat tinggal di desa Matika karena ia khawatir    bahwa umat dermawan yang setia itu mungkin melihat ketidak-sucian pikirannya.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Sang Buddha kemudian    berkata kepada bhikkhu itu untuk memperhatikan hanya pada satu hal, yaitu mengawasi    pikiran. Beliau juga berkata kepada bhikkhu itu untuk kembali ke vihara desa    Matika, tidak memikirkan sesuatu yang lain, tetapi hanya pada obyek meditasinya.    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Bhikkhu tersebut    kembali ke desa Matika. Umat dermawan itu tetap memberikan dana makanan yang    baik kepadanya seperti yang dilakukannya kepada para bhikkhu lain, dan bhikkhu    itu melaksanakan meditasi dengan tanpa rasa khawatir lagi. Dalam jangka waktu    yang pendek, bhikkhu itu mencapai tingkat kesucian arahat. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Berkenaan dengan    bhikkhu itu, Sang Buddha membabarkan syair 35 berikut ini : &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;Sukar dikendalikan    pikiran yang binal dan senang mengembara sesuka hatinya. Adalah baik untuk mengendalikan    pikiran, suatu pengendalian pikiran yang baik akan membawa kebahagiaan.&lt;/i&gt;    &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Para bhikkhu yang    berkumpul pada saat itu mencapai tingkat kesucian Sotapatti setelah khotbah    Dhamma itu berakhir. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4744126975665183720-3657058185105102877?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/feeds/3657058185105102877/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4744126975665183720&amp;postID=3657058185105102877' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/3657058185105102877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/3657058185105102877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/2008/08/syair-35-iii2-kisah-seorang-bhikkhu.html' title='Syair 35 (III:2. Kisah Seorang Bhikkhu Tertentu)'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv6U7MD-0I/AAAAAAAAAJM/9FMq25U3Sx4/s72-c/da03_003.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4744126975665183720.post-318507759927668235</id><published>2008-08-20T04:00:00.000-07:00</published><updated>2008-08-20T04:04:12.462-07:00</updated><title type='text'>Syair 33-34 (III:1. Kisah Meghiya Thera )</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv523qSaYI/AAAAAAAAAJE/eYqhD6-uZZU/s1600-h/da03_001.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv523qSaYI/AAAAAAAAAJE/eYqhD6-uZZU/s320/da03_001.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5236553712797903234" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pada suatu    waktu Meghiya Thera menghadap Sang Buddha dan tinggal beberapa waktu di sana.    Pada suatu kesempatan, dalam perjalanan pulang setelah menerima dana makanan,    Meghiya Thera tertarik pada suatu hutan mangga yang menyenangkan dan indah.    &lt;/span&gt;  &lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;"Hutan ini demikian    indah dan tenang, cocok untuk tempat berlatih meditasi," demikian pikirnya.    Setibanya di Vihara, ia segera menghadap Sang Buddha dan meminta ijin agar diperbolehkan    segera pergi ke sana. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Mulanya, Sang    Buddha meminta dia agar menundanya untuk beberapa waktu, karena dengan hanya    menyenangi tempat saja tidak akan menolong memajukan meditasi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Tetapi Meghiya    Thera ingin segera pergi, lalu ia mengulangi dan mengulangi lagi permohonannya.    Akhirnya Sang Buddha mengatakan agar melakukan apa yang dia inginkan. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Segera Meghiya    Thera pergi ke hutan mangga, duduk di bawah pohon dan berlatih meditasi. Tetapi    pikirannya berkeliaran terus, tanpa tujuan, dan sukar berkonsentrasi. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Sore harinya,    dia kembali dan melapor kepada Sang Buddha mengapa sepanjang waktu pikirannya    dipenuhi nafsu indria, pikiran jahat dan pikiran kejam (kama vitakka, byapada    vitakka, dan vihimsa vitakka). &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Atas pertanyaan    itu Sang Buddha kemudian membabarkan syair 33 dan 34 berikut ini : &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt; &lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;Pikiran itu mudah  goyah dan tidak tetap; pikiran susah dikendalikan dan dikuasai. Orang bijaksana  meluruskannya bagaikan seorang pembuat panah meluruskan anak panah. &lt;/span&gt;  &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt; &lt;b&gt;Bagaikan    ikan yang dikeluarkan dari air dan dilemparkan ke atas tanah, pikiran itu selalu    menggelepar. Karena itu cengkeraman dari Mara harus ditaklukkan&lt;/b&gt;.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;span style="font-family:Verdana, Arial, Helvetica, sans-serif;font-size:85%;"&gt; Meghiya Thera    mencapai tingkat kesucian sotapatti setelah khotbah Dhamma itu berakhir. &lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4744126975665183720-318507759927668235?l=bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/feeds/318507759927668235/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=4744126975665183720&amp;postID=318507759927668235' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/318507759927668235'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4744126975665183720/posts/default/318507759927668235'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://bodhicita-dhammapadaatthakathabab3.blogspot.com/2008/08/syair-33-34-iii1-kisah-meghiya-thera.html' title='Syair 33-34 (III:1. Kisah Meghiya Thera )'/><author><name>bodhicita</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12353743018145378137</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_L2wxAAvYc0U/SKv523qSaYI/AAAAAAAAAJE/eYqhD6-uZZU/s72-c/da03_001.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
